,

Kenapa Berlakunya Perang Khaibar?

Ulama’ berbeza pandangan mengenai bila berlakunya perang Khaibar. Antaranya, Ibnu Ishak mengatakan pada bulan Muharam tahun ke-7 hijrah, Ibnu Sa’ad mengatakan pada bulan Jamadil Awal tahun ke-7 hijrah.

Sebelum ini, yahudi bani Khaibar tidak menunjukkan sebarang sikap permusuhan terhadap kaum Muslimin, sehinggalah para pemimpin yahudi bani Nadhir datang ke Khaibar setelah dihalau oleh Rasulullah dari kampung halaman mereka di sekitar Madinah akibat sikap jahat mereka sendiri.

Betapa hinanya yahudi bani Nadhir ketika mereka dihalau oleh Rasulullah dengan aman, malah mereka dibenarkan membawa isteri, anak-anak, harta, bahkan di barisan belakang ada hamba-hamba wanita penyanyi, mereka memainkan pula rebana dan seruling dengan begitu bangga walaupun dihalau oleh Rasulullah.

Antara pemimpin bani Nadhir yang tinggal di Khaibar ialah Salam bin Abu Haqiq, Kinanah bin Abu Haqiq dan Huyay bin Akhtab.

Setelah perjanjian Hudaibiyah, kaum Muslimin memfokuskan pula terhadap yahudi bani Khaibar, seiring dengan apa yang dinyatakan di dalam Al-Quran:

(Sebagai memuliakan orang-orang yang memberi pengakuan taat setianya di Hudaibiyah, Tuhan menujukan firmannya kepada mereka): Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang kamu akan mengambilnya, lalu Ia menyegerakan untuk kamu harta rampasan perang ini, serta Ia telah menahan tangan manusia (pihak musuh di situ) daripada menyerang kamu; (Allah melakukan yang demikian supaya kamu beroleh manfaat) dan supaya menjadi tanda (yang membuktikan kebenaran janjiNya) bagi orang-orang yang beriman, dan juga supaya Ia menambahkan kamu hidayah ke jalan yang lurus.” (Surah Al-Fath 48:20)

Surah Al-Fath yang diturunkan itu mengandungi janji Allah berupa penaklukan Khaibar dan meraih harta mereka sebagai rampasan perang, yang mana secara tidak langsung dapat memberi ketenangan dan kegembiraan para sahabat yang pada mulanya ramai kaum Muslimin yang tidak bersetuju dengan perjanjian Hudaibiyah yang kelihatan berat sebelah. Namun, hakikatnya Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.

Rujukan : Kitab Sirah Nabawiyyah (Dr Ali Muhammad As-Shallabi)

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%